Video Lagu Sayur Kol yang Diaransemen Polantas Jadi Layanan Masyarakat


0
34 shares
Video Lagu Sayur Kol yang Diaransemen Polantas Jadi Layanan Masyarakat
Polantas Aceh Utara mengaransemen lagu Sayur Kol. Lagu aransemen ini bertujuan untuk mengimbau masyarakat agar taat dalam berlalu lintas. Foto: Capture/YouTube Tribun MedanTV

Lagu Sayur Kol yang dinyanyikan seorang anak mendadak Viral dan menjadi pembahasan di media sosial. Sejumlah kalangan masyarakat pun mencoba menyanyikan Lagu Sayur Kol dengan versi mereka sendiri.

Tak hanya masyarakat, Polisi pun tak mau kalah dengan menyanyikan Lagu Sayur Kol, seperti yang dilakukan Polantas Aceh Utara. Mereka memang tidak menyanyikan lirik dari lagu Sayur Kol, namun masih menggunakan irama lagu yang Viral itu.

Melalui lirik lagu yang diubah dan gaya lucu, para Polisi berusaha untuk memberikan imbauan kepada masyarakat agar tertib berlalulintas. Video Polantas Aceh Utara yang menyanyikan Aransemen lagu Sayur Kol ini juga Viral di media sosial.

Satu di antara akun Instagram yang mengunggah aksi para Polisi ini adalah @satlantaszamannow. Hingga berita ini ditulis, video itu sudah ditonton sebanyak 400 ribu kali dan mendapat berbagai komentar.

Berikut lirik yang diaransemen:

Waktu abang pergi ke lampu merah (Lampu merah)

Datang pelanggar yang amat gagahnya (gagahnya)

Terkejut abang terheran-heran

Itu pelanggar tidak pakai helm (pakai helm)

Abang datang dengan muka tampan (Huuu)

Mencoba untuk menangkapnya

Ku ajaknya dia ke pos lalulintas

Ku tilang dia dengan kertas biru (kertas biru)

(Tertib donk)

(Patuh donk)

Itu untuk keselamatan kita

(Tertib donk)

(Patuh donk)

Jika tidak kami tilang

Pakai kol

Ini Videonya

Dikutip dariĀ TribunMedan.com, lagu Sayur Kol dipopulerkan oleh grup musik asal Pematangsiantar, Punxggoaran.

“Makan Daging Anjing Dengan Sayur Kol”, sebuah petikan lirik dari lagu “Sayur Kol” yang dilahirkan tahun 2017 sudah tak asing bagi penikmat musik di Sumatera Utara.

Kalimat ini cukup familiar di telinga anak-anak hingga dewasa.

Punxggoaran Band yang terbentuk tahun 2016 memiliki tiga personel Gido Firdaus Hutagalung (vokalis), Wanri Seleki (drum), dan Ahmad Rois Pulungan (gitar) merupakan pemusik asal Roti Ganda, Kota Pematangsiantar.

Punxggoaran Band menemukan ciri khas bermusiknya sejak dua tahun lalu.

Setelah bernaung di berbagai genre, mereka menetapkan aliran Punk sebagai pilihan bermusik.

Kehadiran Punxggoaran memberikan warna baru dalam variasi musik Batak.

Tiga pemuda lajang ini menyajikan lagu batak dengan komposisi musik keras tetapi modern.

“Kami tetap inspirasinya itu budaya. Tapi, dengan musik yang modern dan layak didengar,” ungkap vokalis Punxggoaran Band, Gido Firdaus Huatagalung saat ditemui di rumah kreatifitas “The W House”, Siantar, Selasa (11/9/2018).

Punxggoaran sudah menciptakan sembilan lagu yaitu Halak hita, Hona Libas, Mangan Modom, Rokap Rudut, Hey You, Matamu, Marpungu, Sayur Kol, dan Omak-omak. Namun, ada juga lagu batak yang di-arasemen segar seperti Taridem-idem, Mardua Holong, dan Marga-marga.

Hampir semua, video klip yang dibuat berlatar ikon-ikon Kota Siantar.

Menariknya, saat disinggung lagu andalan “Sayur Kol”, tiga personel yang tampil nyentrik ini langsung tertawa.

Gido mengaku heran dengan antusias pendengar yang suka dengan lagu tersebut.

Gido mengungkapkan lagu “Sayur Kol” bukanlah murni ciptaan Punxggoaran. Lagu tersebut merupakan lagu yang sudah ada sejak dulu tanpa mengetahui penciptanya. Ia mencontohkan seperti lagu “Donna” yang dinyanyikan Tongam Sirait.

“Lagu itu seperti lagu simpangan di Sumatera Utara. Lagu latahnya orang-orang lah. Liriknya saja kita tambah-tambahi. Capek kali main musik, tapi “Sayur Kol” yang bomming,” jelasnya sembari tertawa.

Mereka pun mengaku mencari tahu keberadaan bocah yang menyanyikannya hingga menjadi viral.

Ada yang tau dimana keberadaan adik kecil ini ? kami ingin bertemu, mau kasih hadiah buat dia,” tulisnya melalui @punxggoaran, Jumat (7/12/2018).

Gido mengakui banyak kritikan masyarakat terhadap lagu yang diciptakan tahun 2017 itu. Lagu itu memiliki kesan tidak menyayangi anjing sebagai hewan yang paling dekat dengan masyarakat.

Namun, Punxggoaran menilai lirik dalam lagu tersebut menunjukkan kebiasaan budaya Batak dalam mengkonsumsi daging. Gido menceritakan semua lagu yang diciptakan murni bertujuan untuk menginspirasi anak muda.

Bahkan, mereka memulai dengan tampil di YouTube. Selain aktif di YouTube, mereka juga sering mempublikasikan kegiatan di akun instagram @punxggoaran.

Gido menjelaskan Punxggoaran bukanlah sekadar band Batak yang mencari keuntungan dari lagu-lagu yang diciptakan.

“Kami melihat situasinya. Tidak sekadar mengkomersilkan karya. Contohnya aksi sosial, kita tidak mematokkan bayaran,” jelasnya. (Artikel Asli)


What's Your Reaction?

Suka Suka
0
Suka
Keren Keren
0
Keren
Kaget Kaget
0
Kaget
Takut Takut
0
Takut
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Sedih Sedih
0
Sedih
Muntah Muntah
0
Muntah
Marah Marah
0
Marah

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *